Sabtu, 30 Juni 2012

Makalah Pengawetan Tanah dan Air


KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kepada ALLAH SWT berkat rahmat dan karunia-Nya penulis bisa menyelesaikan Makalah ini.serta tidak lupa pula kita kirimkan salawat kepada Nabi besar Muhammad SAW Nabi yang membawa kita dari zaman jahiliah ke zaman modern sekarang ini.
Adapun maksud penyusunan makalah ini ialah untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Pengawetan Tanah dan Air, selain itu penulis berharap semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi para pembaca dan terutama pribadi penulis.
Dalam penyusunan makalah ini penulis banyak sekali mendapatkan bantuan baik secara moril maupun finansial, oleh karena itu dalam kesempatan ini penulis menghaturkan terima kasih serta penghormatan yang begitu mendalam, diantaranya kepada bapak ibu dosen selaku pembimbing dan teman mahasiswa yang selalu memberikan dukungan.
Penulis menyadari banyak sekali kekurangan dalam penyusunan makalah ini, oleh karena itu penulis mengharapkan  kritik dan saran yang bersifat membangun demi perbaikan di masa yang akan datang.



Mandalle, Maret 2012


                                                                                                   Penulis







BAB I
PENDAHULUAN

Pembangunan dan lingkungan mempunyai hubungan timbal balik. Di dalam pembangunan, manusia merupakan konsumen yang berperan aktif dalam proses pemanfaatan sumberdaya alam. Manusia sangat tergantung kepada sumberdaya alam dan kelestarian sumberdaya alam sangat dipengaruhi oleh aktivitas manusia. Upaya manusia untuk meningkatkan perekonomian harus disertai upaya untuk mempertahankan dan memperbaiki kualitas lingkungan. Manusia sebagai komponen aktif dan pengelola lingkungan akan menentukan pola dan corak penggunaan lahan pada suatu wilayah DAS. Pertambahan penduduk identik dengan peningkatan kebutuhan. Hal ini akan menyebabkan bertambah besarnya tekanan kepada sumberdaya lahan dan perubahan penggunaan lahan ini juga dijumpai di kawasan lindung. Daerah berbukit dan terjal yang merupakan kawasan lindung digunakan penduduk menjadi areal pertanian tanpa menggunakan masukan agroteknologi yang sesuai. Tekanan ini akan menyebabkan pola penggunaan lahan dan proporsi lahan untuk areal pertanian akan bertambah besar sedangkan wilayah lindung akan semakin berkurang. Perubahan jumlah manusia dan bentuk kegiatannya akan mengakibatkan perubahan dalam penggunaan lahan dan selanjutnya akan menyebabkan perubahan dalam kualitas lingkungan. Perubahan lingkungan ini sering merupakan akibat pemanfaatan sumberdaya alam sudah melampaui daya dukung lingkungan. Dampak yang sering terlihat adalah bertambahnya lahan kritis, meningkatnya erosi tanah dan sedimentasi serta terjadinya banjir pada musim hujan dan kekeringan pada musim kemarau. Perubahan penggunaan lahan ini dalam jangka pendek terlihat rasional secara ekonomis karena banyak nilai dan manfaat langsung yang diperoleh tetapi pada sisi lain banyak manfaat dari perlindungan lingkungan dengan adanya kawasanlindung/berhutan yang tidak dihitung dalam pengambilan kebijakan untuk merubah penggunaan lahan (Crook dan Clapp, 1988). Hal ini memberikan gambaran bahwa 2 keinginan manusia untuk memperbaiki kehidupan ekonomi tidak berarti manusia boleh mengorbankan kelestarian lingkungan. Proses perubahan penggunaan lahan ini selain menghasilkan manfaat yang dapat dinikmati oleh masyarakat juga tidak lepas dari resiko terjadinya kerusakan lahan akibat erosi, pencemaran lingkungan, banjir dan lainnya. Erosi akan menyebabkan terjadinya pendangkalan waduk, penurunan kapasitas saluran irigasi, dan dapat mengganggu sistem pembangkit tenaga listrik. Erosi yang tinggi, banjir pada musim penghujan tidak hanya menimbulkan dampak negatif pada aspek bio-fisik sumberdaya alam dan lingkungan tetapi juga berdampak pada aspek sosial ekonomi masyarakat. Erosi dan banjir dapat menurunkan kualitas dan kuantitas sumberdaya alam. Produksi pertanian, perikanan dan penggunaan sumberdaya alam yang berkaitan dengan air akan menurun. Upaya pencegahan banjir dan sedimentasi dapat dilakukan dengan perbaikan pola penggunaan lahan dan melakukan usaha konservasi tanah dan air. Upaya ini umumnya masih dilakukan parsial terutama karena aktivitas ini masih dihitung sebagai biaya sosial dan bukan sebagai aktivitas ekonomi yang menguntungkan. Untuk itu perlu dikembangkan evaluasi pola penggunaan lahan yang dapat mengurangi erosi, banjir tetapi secara ekonomi menguntungkan. Evaluasi ini harus juga mengukur nilai ekonomi dari manfaat atau kerugian lingkungan yang terjadi baik langsung maupun tidak langsung. Peran penggunaan lahan dalam mengurangi dampak lingkungan dan memberikan manfaat ekonomi bagi penduduk masih membutuhkan kajian. Untuk mencari pola tataguna lahan yang optimal dibutuhkan penelitian pada berbagai pola tataguna lahan. Upaya ini membutuhkan waktu dan biaya besar, sehingga digunakan pendekatan analisis sistem. Dengan pendekatan sistem, apa yang akan terjadi bila digunakan perubahan pola tataguna lahan di suatu DAS dapat diketahui. Pendekatan system dapat dilakukan dengan menggunakan eksperimentasi atau simulasi sehingga pengaruh dari beberapa model penggunaan lahan terhadap banjir dan sedimentasi serta manfaat ekonomi dapat diketahui. Simulasi akan dikembangkan dengan model 3 ekosistem DAS yang merupakan gambaran abstrak dari keadaan DAS. Dengan demikian akan diketahui model penggunaan lahan yang paling sesuai dengan kondisi agroklimat dan kondisi sosial masyarakat dan secara ekonomi bermanfaat bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Daerah Aliran Sungai yang dipilih untuk penelitian ini adalah DAS Besai bagian hulu di DAS Tulangbawang, Lampung. Pemilihan daerah ini didasarkan beberapa pertimbangan, antara lain (i) Bagian hulu Sub-DAS Besai terdapat areal hutan lindung yang mulai digunakan penduduk sebagai areal kebun kopi; (ii) Di Sub-DAS Besai dijumpai beberapa investasi nasional seperti pembangkit listrik dan daerah irigasi di hilir (areal pertanian); (iii) perubahan penggunaan lahan di hulu dapat mengancam keberadaan fungsi hidrologis dari DAS Besai yang diperlukan masyarakat sehingga pengelolaan hulu menjadi prioritas penanganan.




BAB II
PEMBAHASAN

Analisis evaluasi penggunaan lahan untuk perencanaan pengelolaan DAS dilakukan dua tahap yaitu analisis bio-fisik dan ekonomi. Dalam kajian ini dilihat hubungan antara konsep ekonomi lingkungan dengan dampak bio-fisik yang akan diukur dan dinilai dari suatu pola penggunaan lahan.  Tahap pertama adalah analisis pola pola penggunaan lahan yang ada saat ini di DAS Besai. Analisis ini dimaksudkan untuk acuan penyusunan alternatif penggunaan lahan. Jika dalam analisis ini diperoleh informasi bahwa dampak pola penggunaan lahan yang ada menyebabkan erosi tinggi, sedimentasi tinggi dan fluktuasi debit besar maka dikembangkan atau disusun beberapa alternatif penggunaan lahan yang akan menyebabkan erosi dan sedimentasi kecil. Pada tahap ini dilakukan kajian dampak perubahan pola penggunaan lahan terhadap bio-fisik dan kimia lingkungan yang ada baik on-site maupun off-site dari beberapa alternatif pola penggunaan lahan. Pada tahapan ini akan difokuskan kepada dampak akibat perubahan penggunaan lahan terhadap erosi, sedimentasi dan debit di DAS
Besai. Dampak terhadap erosi dan sedimentasi dari alternatif pola penggunaan lahan yang dipilih adalah yang lebih rendah dari kondisi saat ini disamping juga memenuhi syarat erosi mendekati TSL. Analisis ini dilakukan untuk menjawab tujuan penelitian ke-1 dan ke-2 (point I) Tahap ke dua adalah penilaian dampak bio-fisik dalam nilai rupiah dan mengembangkan implementasi dalam perencanaan DAS. Penghitungan manfaat dalam nilai ekonomi ini dilakukan baik untuk dampak pada on-site maupun off-site. Tahapan ini dimaksudkan untuk menjawab tujuan penelitian ke-1 dan ke-2 (point ii dan iii). Analisis data yang dilakukan antara lain adalah :
Data penggunaan lahan dianalisis dari data penggunaan lahan (BPN). Analisis pola penggunaan lahan saat ini untuk mellihat besar erosi, sedimentasi dan debit dilakukan dengan menggunakan model hidrologi ANSWERS. Hasil keluaran model dianalisis untuk melihat apakah model sudah menggambarkan kondisi DAS. Data hasil prediksi model dibandingkan dengan data lapang untuk menguji apakah parameter penyusun model sudah sesuai. Jika hasil menunjukkan kesesuaian parameter maka model digunakan untuk simulasi beberapa penggunaan lahan. Analisis pola penggunaan lahan saat ini akan menjadi acuan bagi penyusunan alternatif penggunaan lahan dan yang akan dipilih untuk analisis selanjutnya adalah pola penggunaan lahan yang menghasilkan erosi, sedimentasi yang kecil.
Simulasi alternatif dari beberapa penggunaan lahan untuk melihat atau memperkirakan dampak perubahan penggunaan dan pengelolaan lahan pada komponen erosi dan aliran permukaan. Pada tahapan ini, simulasi diarahkan untuk memenuhi syarat erosi rendah. Modifikasi dilakukan pada parameter di dalam model ANSWERS yaitu pada parameter penggunaan lahan dan agroteknologi. Skenario dalam simulasi ditentukan atas dasar kemungkinan yang akan terjadi di DAS Besai dan upaya perbaikan konservasi tanah dan air.
Data sosial ekonomi dianalisis untuk menentukan nilai ekonomi dari manfaat lingkungan untuk setiap parameter yang berbeda. Perhitungan manfaat atau biaya secara ekonomi dari dampak alternatif pola penggunaan lahan terpilih dilakukan dengan mengukur nilai produktivitas, harga bayangan dan lainnya.
Manfaat ekonomi pengelolaan DAS dari aspek nilai pilihan dan eksistensi, didasarkan pada penilaian responden yang bertempat tinggal di DAS Besai. Perubahan penggunaan lahan diduga berdampak pada berkurangnya ketersediaan air pada musim kemarau dan banjir pada musim hujan. Kekurangan air akan menyebabkan masyarakat mengeluarkan biaya tambahan dan pada musim hujan air keruh dan mengandung polutan akibat erosi dan dapat menyebabkan diare. Jumlah masyarakat yang menderita sakit dan memperdalam sumur akibat adanya penurunan muka air, dibatasi pada penduduk yang berada di DAS Besai hulu (secara administratif berada dalam Kec. Sumberjaya) atau di desa-desa sekitar lokasi penelitiaan ini, pada periode Januari –Desember 1999.

















BAB III
PENUTUP

Pertumbuhan penduduk yang cepat menyebabkan tekanan terhadap lahan tinggi dan pada gilirannya menyebabkan penurunan fungsi DAS. Konflik penggunaan lahan muncul akibat adanya perbedaan kepentingan dari berbagai pihan dengan bermacam alas an. Perbedaan kepentingan ini menyebabkan tidak terciptanya sinkronisasi pengelolaan DAS di hulu dan hilir. Pada daerah hulu, penduduk melakukan konversi lahan berhutan menjadi pertanian. Pola usahatani yang dikembangkan umumnya berorientasi kepadapasar yang pada gilirannya menyebabkan petani tidak menggunakan system usahatani yang berwawasan lingkungan sebab usaha yang berorientasi kepada perlindungan fungsi DAS seringkali tidak dapat diukur manfaatnya secara ekonomi. Usahatani yang dikembangkan di daerah hulu dapat mempengaruhi biaya langsung dan tidak langsung dari system perekonomian di hilir akibat erosi dan sedimentasi serta akibat perubahan pola hidrologi serta kualitas air yang semakin rendah. Biaya yang timbul tidak terintegrasikan dalam struktur pengelolaan lahan di hulu dan mempengaruhi pemilik lahan dan pemakai air di hilir. Manfaat dan biaya di off site tidak terlihat dalam struktur keputusan petani tetapi merupakan bagian tidak terpisahkan dari dampak ekonomi yang ditimbulkan akibat perubahan penggunaan lahan. Dampak dari perubahan penggunaan lahan ini secara potensial mempunyai dampak turunan yang cukup luas tidak hanya pada sector pertanian. Dampak ini menyebkan terjadinya distorsi dalam pasar dan bias ini berdampak kepada kebijakan dan pengambilan keputusan dalam pengelolaan DAS dan lingkungan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar